Friday, December 9, 2016

Poem (1)

Setiap riak air mata yang datang
Saya hentikan

Melihat ke sebelah
Ada mata jernih
Yang menatap saya penuh harap
Yang menanti pelukan

Saya mungkin kehilangan asa
Tapi ia tidak kehilangan ibunya

Semoga setiap kebersamaan kita
Memang benar atas kuasa-Nya

I love you,nak.

Ya Allah..Tolong ikhlaskan hati hamba..yang kadang masih menuntut-Mu..yang kadang masih meragukan jalan-Mu..Engkau lah sebaik-baik pembuat rencana..

Monday, November 21, 2016

Arsena 14 bulan - Arsena belajar jalan

Assalamualaikum.

Haaaaii haiiii! Saya kangen nulis di blog tapi sumpah ini lagi rempong bangett. Bulan Oktober saya bolak-balik ke Bekasi. Bulan ini pun masih ada perlu kesana. Ditambah lagi, sekarang Arsena lincah bukan main. Saya udah kecapean banget sampe ga sempet nulis-nulis lagi.

Untuk tulisan pertama setelah vakum nulis, saya mau nulis tentang milestone-nya Arsena dulu ya..Takut saya lupa.

Di usia 14 bulan, akhirnya Arsena bisa jalan sendiri! One of the biggest milestone done! Setelah puas merangkak dan berdiri selama 7 bulan ya nak :') Lewat umur setahun, Arsena masih belum nunjukkin tanda-tanda mau jalan. Dititah pun males-malesan. Ya sudahlah ya, saya tanya-tanya sama orang gimana caranya biar anak bisa cepet jalan. Ayah saya nyaranin saya untuk kasih Arsena tetesan embun pagi. Baiklah saya coba. Selama sebulan, saya selalu ajak Arsena jalan di atas rumput tanpa alas kaki selama pagi dan sore. Saya juga ajak jalan di aspal tanpa alas kaki. Setelah itu, Arsena sudah ada kemajuan. Sudah mau dititah secara cepat.

Arsena bisa jalan setelah kami ajak jalan-jalan ke Bangka..disana main pasir sepuasnya..mungkin kakinya kena rangsangan dari pasir yaa..Tapi itu jalannya juga cuma mau di atas kasur. Selangkah dua langkah. Itu juga latihan jalan sambil tertawa-tawa 😂 Sampai saya dan mamas udah pasrah. Kami bilang sama Arsena "terserah ya nak mau jalan kapan..kami tunggu". Eh beberapa hari kemudian, tau-tau bisa jalan di lantai! Saya lagi telp mamas di kamar, eh tau-tau ini bocah jalan dari luar mau masuk ke kamar. Terharu banget mamaknya :") Ga sia-sia ya nak setelah latihan jalan panjaaaang.

Waktu bisa jalan pertama kali, jalannya masih sering jatuh-jatuh. Tapi ini anak kayak ga ada takutnya. Tiap abis jatuh ya jalan lagi :") Im proud mom. Setelah seminggu bisa jalan, ini anak gegayaan banget maunya jalan sambil merem 😂😂

Intinya..saya percaya kalo anak ada timingnya masing-masing untuk setiap milestone. Kasih stimulasi maksimal oke tapi jangan pernah paksa anak kalo emang anaknya belum mau.. Kalo memang sudah waktunya, nanti pasti bisa.

Milestones yang lainnya lupaaaa..hahaha..saya cuma inget belajar jalan..nanti saya inget-inget lagi yaa..

See you soon yaa..titip doain saya dan keluarga saya sehat biar saya bisa nulis-nulis disini lagii ❤💪

Wassalamualaikum

Saturday, September 17, 2016

8 hal unik tentang Palembang

Assalamualaikum.

Hai hai..gimana kabarnyaa? Saya rindu serindu-rindunya ngeblog niih. Tapi Arsena lagi susah ditingga belakangan ini karena lagi rewel tumbuh gigi. Jadilah saya harus all day long nenenin dia huhu. Tulisan perdana nih setelah vakum ngeblog hampir sebulan. Saya ngerangkum 8 hal tentang Palembang yang saya amati selama 3 bulan ini, check it out yaa..

1. Pempek
Menurut saya, pempek semacam agama disini. Dimanapun, kapanpun, semua orang makan pempek. Toko pempek ada dimana-dimana. Dari pedagang kaki lima sampai kelas restoran menyediakan pempek. Waktu makannya pun bisa kapan saja. Sarapan pempek. Makan siang pempek. Makan malam pempek. Bener-bener bisa dijadikan substitusi sama makan berat. Awalnya saya ga percaya kalo orang Palembang fanatik sama pempek. Tapi setelah tinggal di Palembang, i kno how its feeeel. Saya pun menjadi salah satu dari mereka. Ga makan pempek dan cuko sehari rasanya pala cenat cenut hahaha. Percaya ga percaya, saya sering sarapan pempek plus cuko tanpa mules. Officially jadi warga sini, right? Tempat makan pempek favorit tentu saja pasar 26 ilir tercinta.

2. Aroma Pupuk Pusri
Waktu pindah dari Bekasi ke Palembang, saya seneng dong ya karena terbebas dari bau sampah TPA Bantar Gebang yang aromanya kadang sampai ke rumah saya. Tapi saya terjebak, Palembang juga punya bau yang khas. Bau pupuk dari Pusri. Semacam bau ta* kucing dan ta* ayam plus terasi plus kentut dijadiin satu kalo misal pupuknya lagi di produksi. Ternyata oh ternyata, Pusri ga jauh dari rumah saya, cuma adanya di seberang ilir.

3. Sungai Musi
Saya merasakan Palembang itu unik karena adanya sungai ini. Sungai ini membelah Palembang menjadi dua bagian, seberang Ulu dan seberang Ilir. Yang dijembatani oleh jembatan Ampera. Seberang Ilir sudah terbangun lebih dahulu sehingga pusat pemerintahan masih ada di seberang Ilir. Sungai Musi benar-benar hidup. Berbagai aktivitas dilakukan di sungai ini, transportasi, penangkapan ikan, sampai MCK juga masih ada.

4. Melanggar lalu lintas
Lalu lintas di Jakarta keras? Disini lebih keras! Saya cukup terkaget-kaget dengan perilaku mengemudi orang-orang di kota Palembang yang terbilang cukup berani dalam melanggar lalu lintas. Yang paling sering adalah menerobos lampu lalu lintas, tidak peduli lampu merah masih menyala, motor atau mobil masih ada saja yang melaju kencang. Sampai ada peringatan berupa pamflet yang mengingatkan bahwa lampu lalu lintas harus dipatuhi. Selain menerobos lampu lalu lintas, hal lain yang bikin elus dada adalah pengemudi motor yang suka contra flow. Bukan cuma seorang, tapi hampir semua orang. Mereka tidak mau memutar di tempat yang agak jauh, akan tetapi lebih memilih untuk melawan arah. Saya stres banget tiap naik gojek atau becak disini, abang-abangnya kelakuannya ya kayak gitu rata-rata -_-

5. Ikan dan Ikan
Saya menikmati sekali belanja ikan di Palembang. Supply ikan air tawar melimpah ruah. Dari ikan Gabus, Patin, Lele, Mujair, sampai ikan yang saya ga tau namanya banyak banget ada di pasar. Kalo di Bekasi ikan-ikan harganya mahal, disini maaah muraaaah, malah kayak ga ada harganya. Ikan lepas-lepas di pasar juga pedagangnya cuek aja. Padahal yang sering lepas tuh ikan Gabus segede tangan saya 😂 Semenjak di Palembang, menu masakan di rumah adalah ikan dan ikan. Yang kasian adalah bapak suami yang masih belom ikhlas makan ikan. HAHA. Tukang ayam dan tukang daging jarang banget di pasar.

6. Mall oh Mall
Kesamaan Palembang dengan Bekasi adalah sama-sama banyak mall. Dan orang Palembang suka pergi ke mall. Saya beberapa pergi ke mall di waktu akhir pekan dan saya kapok. Mallnya penuh banget bangetttt. Soalnya beberapa kali ngobrol sama orang disini, mereka rata-rata bilang kalo Palembang ga punya tempat wisata, makanya main ke mall. Padahal nih ya, wisata Palembang jauh lebih banyak dan variatif dibanding Bekasi.

7. Anaknya banyak
Setiap saya pergi sama Arsena, saya selalu ditanya "baru siko?" Saya selalu mendelik setiap ditanya gitu. Wong satu aja saya masih kerepotan ngurusnya. Bukan sekali dua kali saya ditanya gitu, dari tukang jualan sampe orang kantor Mamas yang nanya gitu. Mamas juga laporan sama saya kalo rata-rata orang di kantornya anaknya 3 atau lebih hahahaha. Menurut saya sih ni ya, karena biaya hidup di Palembang masih masuk akal, jadi orang-orang enjoy aja punya anak banyak.

8. Panas
Palembang ini panasnya ampun-ampun deh. Mataharinya kayak ada dua. Udaranya lembab tak berangin. Waktu awal pindah kesini dan belom beli kipas angin, saya terpaksa pake AC 24 jam yang mengakibatkan token listrik 100ribu cuma bertahan 3 hari zzz. Saya baru berani ngajak Arsena main di luar rumah diatas pukul 5 sore, ketika mataharinya sudah turun.

Gitu dulu yaa postingan dari saya. Kalo misal saya nemu hal-hal unik lainnya, saya bakal tambahin disini deh yaa..See you..

Wassalamualaikum.

Monday, September 12, 2016

Traveling Series : Hello from Hutan Punti Kayu

Assalamualaikum.
Sejujurnya, saya menikmati kepindahan kami ke Palembang. Yang pertama, makanan disini enak-enak. Yang kedua, kami masih punya hiburan selain main ke mall. Hampir setiap wiken, kami main ke komplek Pertamina Plaju untuk bermain bola di lapangan bola (beneran). Lainnya, kami sempat main ke Hutan Kota Punti Kayu. Saya tertarik main kesana karena penampilan di web sangat menarik. Hutan pinus dengan berbagai fasilitas.

Kami tertarik untuk main ke hutan kota ini karena kami merindukan angin sepoi-sepoi. Sampai di hutan, ternyata sama saja, tetep panas lembab khas Palembang. Kami pergi kesana sekitar sebulan yang lalu dengan berbekal google maps. Hutan Punti Kayu sendiri terletak di pinggir jalan sehingga sangat mudah mencarinya. Tiket masuknya saya lupa berapa  yang pasti terbilang murah. Awalnya.

Kami memutari area hutan menggunakan mobil pribadi. Hutannya sendiri sangat luas. Ada beberapa area yang bisa dikunjungi seperti kebun binatang mini, waterpark, jembatan gantung, dan area bebas. Mau berhenti dimanapun, tetap saja penuh dengan monyet yang berkeliaran. Kami memutuskan untuk masuk ke kebun binatang mini. Tiket masuk kebun binatang mini @10.000. Sampai di dalam, kami kecewa. Kebun binatang mininya tidak menarik sama sekali. Binatangnya kurus-kurus dan terlihat tidak terawat :( Di dalam kebun binatang pun tidak ada penjaga sehingga kami cukup was-was takut ada binatang yang lepas. Binatangnya sendiri tidak terlalu banyak. Ada kuda poni, monyet, ayam, angsa, ular, marmut, komodo (apa sejenisnya?), serta ikan. Kami cuma keliling sekitar 15 menit saja karena memang tidak menarik.

Setelah keluar dari kebun binatang, tadinya kami mau ke area jembatan gantung (plus bisa main bebek-bebekan) tapi ternyata mesti bayar lagi. Padahal kami cuma mau foto di jembatannya. Karena kami lelah, kami akhirnya duduk di gazebo yang ada di area hutan. Dari tempat kami duduk, terlihat jelas sampah berserakan dimana-dimana padahal tong sampah tersedia. Sungguh mencelos rasanya hati. Pengunjung seenaknya membuang/meninggalkan sampah sisa piknik di hutan. Seharusnya, pengelola hutan memberi peringatan mengenai membuang sampah. Peringatan di hutan cuma seputar "awas monyet liar". Padahal menurut saya, lebih liar pengunjung yang buang sampah sembarangan :(

Sembari meluruskan kaki yang pegel, kami melihat monyet-monyet yang berseliweran. Ada yang lagi manjat pohon, manjat kabel, dan ada juga yang lagi nyusuin anaknya. Kami langsung cekikikan. Persis banget Arsena kalo lagi breastfeeding  Lucu banget monyet kecil, warnanya masih abu-abu..

Setelah puas selonjoran, kami pulang..
Beberapa ini menjadi catatan kami :
- Tiket masuk yang murah akan terasa mahal karena setiap wahana akan dikenai biaya masuk lagi.
- Banyak nyamuk di Punti Kayu, oleskan lotion anti nyamuk sebelum masuk (Arsena bentol-bentol parah pulang dari sini)
- Jangan berharap banyak karena kenyataan tidak sebagus di foto
- Bawa makanan sendiri dan makan di mobil aja biar ga digangguin monyet pas makan
Btw pemerintah Palembang, ada niat ga buat study banding ke Bandung buat bagusin hutan kota ini?:)
*pernah ke Jendela Alam Bandung dan bagusnya lebih lebih lebih dari ini.















See you next post

Wassalamualaikum

Thursday, September 8, 2016

Start from zero

Assalamualaikum.

Pertama kali pindah ke Palembang ya sedih ya. Terutama soal ninggalin rumah. Karena kami ga bawa apa-apa kesini, sebagian besar barang di rumah lama dijual dan dikasihkan ke keluarga. Saya mellow bener waktu bagian jual-jualin barang. Soalnya belinya berasa benerrrr. Waktu pisahan sama mesin cuci dan jemuran, air mata saya netes. Keingetan kalo mesin cuci itu salah satu barang pertama yang dipunya di rumah lama karena mamas nyerah nyuci pake tangan :") Sedih juga pas pisahan sama tv, soalnya tv itu dibeliin mamas buat saya karena kasian liat saya ntn CHSI di henpon haha..

Untungnya nih ya, kami ngontrak rumah beserta isinya. Jadi kami ga perlu beli barang-barang banyak lagi. Barang besar yang mesti kami beli cuma kulkas dan kipas angin. Yang urgent itu kulkas. Kami butuh simpen bahan makanan di kulkas. Oiya, kipas angin juga urgent karena Palembang panas banget tiada berangin. Pernah saking ga kuatnya, saya seharian nyalain ac kamar dan tagihan listrik jebol 😂. Jadi hari-hari pertama di Palembang diisi dengan jajan kulkas dan kipas angin. Setelah punya kulkas, saya baru berani belanja bahan makanan untuk stok seminggu. Selain beli stok makanan, kami juga beli barang-barang perintilan di toko kelontong, here are they :
- sapu
- lap pel
- mangkok
- pisau
- talenan
- gelas
- panci kukusan (yang murce tentu sajaa)
- wadah penyimpanan
- wajan
- sodet
- saringan
- centong

Setelah ditulis kembali, kok ya isinya peralatan dapur semua haha. Hidup saya lumayan tenang deh setelah beli-beli barang ini meski duit langsung minus 😨 Setelah sesi kemarin itu, ada juga sesi belanja lainnya, yaitu beli guci air setelah dua bulan mengandalkan tuang air galon ke gelas hahaha *langsung berotot*.

Rasa-rasanya masih banyak lagi yang pengen dibeli untuk bagusin rumah. Tapi kok setelah dipikir-pikir, takutnya bakal ribet punya banyak barang kalo nanti kami harus pindah lagi. Tapi pengen beli. Gimanaaaa ini cobaa..wish list yang belum kesampean ini nih :
- happy call (dari jaman kapan tau belom kesampean haha)
- tudung saji
- rak piring kecil
- taplak meja
- serbet
- frame foto dan album
- pohon bunga
- selang air

We start from zero. Minus indeed. Gara-gara abis pindahan, hape pak suami segala rusak.Jebol tabungan laah buat beli yang baru huhuu..Setelah hijrah kesini, semoga ke depan lebih baik,aamiin..